Goku dan Vegeta berdiri di ruang kosmik pada Dragon Ball Super 2025
Anime trending 2025 kembali bergetar dengan kembalinya Dragon Ball Super, seri legendaris yang tidak pernah benar-benar berakhir. Setelah Tournament of Power dan berbagai arc kosmik, dunia Dragon Ball kini memasuki fase baru yang lebih gelap, lebih luas, dan jauh lebih berbahaya.
Era ini bukan lagi tentang siapa petarung terkuat di alam semesta, melainkan tentang apa yang terjadi ketika kekuatan para dewa tidak lagi cukup.
Dunia Setelah Tournament of Power
Tournament of Power memang berakhir, namun dampaknya terasa di seluruh multiverse. Banyak alam semesta selamat, tetapi keseimbangan kosmik terguncang.
Beberapa ras kuno mulai bangkit. Teknologi alien berkembang pesat. Ancaman baru tidak lagi datang dari satu musuh, melainkan dari konflik antar realitas.
Menurut laporan dari Anime News Network, Dragon Ball Super 2025 akan fokus pada konsekuensi jangka panjang Tournament of Power.
Goku dan Batas Terakhir Kekuatan
Goku masih menjadi pusat cerita, namun perannya mulai berubah. Ia tidak lagi sekadar pejuang haus pertarungan. Ultra Instinct telah membawanya ke level yang bahkan sulit ia pahami sendiri.
Di arc terbaru, Goku mulai mempertanyakan batas kekuatannya. Apakah selalu ada level berikutnya, atau justru ada harga yang harus dibayar untuk terus melampaui diri sendiri?
Pendekatan ini membuat karakter Goku terasa lebih dewasa dibanding era sebelumnya.
Vegeta dan Jalan Dewa Kehancuran
Vegeta mengambil jalur berbeda. Ia tidak mengejar Ultra Instinct, melainkan mendalami kekuatan kehancuran ala God of Destruction.
Konflik batin Vegeta menjadi sorotan. Ia tidak lagi bertarung demi mengalahkan Goku, tetapi demi menemukan identitasnya sendiri sebagai pejuang dan ayah.
Fans di MyAnimeList menyebut perkembangan Vegeta sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah Dragon Ball.
Musuh Baru di Luar Konsep Baik dan Jahat
Dragon Ball Super 2025 memperkenalkan antagonis yang tidak sepenuhnya jahat. Mereka adalah entitas kosmik yang melihat alam semesta sebagai eksperimen.
Musuh-musuh ini tidak bisa dikalahkan dengan pukulan saja. Mereka menantang konsep waktu, realitas, dan eksistensi itu sendiri.
Ini membuat konflik terasa lebih filosofis, tidak sekadar adu kekuatan otot.
Skala Pertempuran Multiverse
Pertarungan kini tidak hanya terjadi di satu planet. Dimensi runtuh, alam semesta bertabrakan, dan ruang-waktu menjadi medan perang.
Studio animasi menghadirkan visual kosmik dengan warna-warna cerah, ledakan energi raksasa, dan desain arena yang benar-benar baru bagi Dragon Ball.
(Baca Juga: One Piece Final Saga 2025 — Perang Terakhir Dunia Bajak Laut)
Reaksi Penggemar Dunia
Sejak teaser DBS 2025 dirilis, tagar #DragonBallSuper2025 trending di berbagai negara. Penggemar lama dan generasi baru kembali mengikuti seri ini karena penasaran dengan arah barunya.
Media seperti Crunchyroll News menyebut era ini sebagai “Dragon Ball paling ambisius sejak era Z.”
Kesimpulan
Dragon Ball Super 2025 bukan sekadar nostalgia. Ini adalah evolusi besar dari franchise legendaris. Dengan cerita lebih matang, konflik kosmik, dan karakter yang berkembang, DBS membuktikan bahwa kisah Goku dan kawan-kawan masih relevan di era modern.
Era baru telah dimulai — dan para dewa pun mungkin tidak siap menghadapinya.
